Asal Usul Nama Surabaya – Jawa Timur

Cerita Rakyat Nusantara dari Jawa Timur

0
Asal Usul Nama Surabaya
Asal Usul Nama Surabaya. (Image source: Qerja.com)

Asal usul nama Surabaya. Konon pada zaman dahulu hiduplah seekor buaya besar bernama Baya. Iya mempunyai musuh bebuyutan berupa seekor ikan hiu besar bernama Sura. Hampir setiap hari kedua hewan itu saling berkelahi. Keduanya sama-sama kuat, tangguh, dan tangkas hingga tidak ada yang menang maupun yang kalah. Jika Sura dan Baya berkelahi, perairan di sekitar mereka menjadi bergelombang besar lagi keruh. Hewan-hewan air lainnya merasa terganggu karenanya. Mereka telah berusaha mendamaikan Sura dan Baya, namun buaya besar dan ikan hiu besar itu tetap juga tidak bisa didamaikan. Keduanya terus bermusuhan dan berkelahi.

Terus-menerus bermusuhan dan berkelahi pada akhirnya membuat keduanya lelah dan bosan. Mereka pun bersepakat untuk menghentikan permusuhan mereka untuk sementara waktu.

Sura dan Baya bertemu untuk menggagas penghentian permusuhan mereka. Pada pertemuan itu Sura memberikan usulannya, “Untuk menghidari perselisihan di antara kita, sebaiknya kita membagi wilayah kekuasaan.”

“Bagaimana maksudmu?”

“Aku berkuasa di air dan engkau di darat. Semua mangsa yang berada di air menjadi bagianku dan semua yang berada di darat menjadi ┬ábagian untuk engkau mangsa. Adapun batas antara wilayah kekuasaanku dan kekuasaanmu adalah daerah di mana air laut mencapainya ketika waktu pasang.”

Baya merenung sejenak baru kemudian mengangguk-anggukkan kepala. “Baiklah. Aku setuju dengan saranmu itu.”

Persetujuan antara Sura dan Baya tercapai. Keduanya akhirnya tidak lagi berkelahi setelah keduanya saling membagi wilayah kekuasaan. Semua yang berada di air menjadi mangsa Sura dan semua yang berada di darat menjadi mangsa Baya.

Perdamaian antara Sura dan Baya tampaknya tidak berlangsung lama. Sura mulai melanggarnya. Ia tidak hanya mencari mangsa di laut seperti biasanya, melainkan juga mencari di sungai. Ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui Baya. Namun, betapa pun rapi dan terembunyinya perilaku curang Sura itu, Baya pada akhirnya mengetahuinya.

Baya amat marah ketika mengetahui Sura mencari mangsa ke sungai. Segera didatanginya Sura dan ditegurnya keras-keras, “Hei Sura! Mengapa engkau melanggar perjanjian perdamaian di antara kita? Berani-beraninya engkau melanggar wilayah kekuasaanku!”

“Siapa yang melanggar wilayah kekuasaanmu?” sergah Sura dengan suara yang tak kalah lantang dibandingkan Bay. “Perjanjian perdamaian di antara kita menyebutkan, aku menguasai seluruh perairan dan engkau menguasai seluruh wilayah daratan. Lantas, apakah aku salah jika mencari mangsa di sungai ini? Bukankah sungai ini juga merupakan wilayah air yang berarti juga menjadi wilayah kekuasaanku?”

Baya merasa, Sura hanya mencari-cari alasan. Sergahnya kemudian, “Engkau benar-benar licik, hei Sura! Engkau hanya ingin mencari mangsa di daratan dan berpura-pura berdamai denganku. Kini, tidak ada lagi perdamaian di antara kita! Siapa yang terkuat diantara kita, maka dialah sang penguasa sesungguhnya yang bebas mencari mangsa di manapun juga yang dikehendakinya!”

Tantangan Baya segera disambut Sura. “Kita buktikan siapa yang terkuat di antara kita!” serunya!

Pertarungan Sura dan Baya kembali terjadi. Berlangsung sangat seru. Masing-masing menggigit bagian tubuh lawannya. Dengan gigi-gigi runcingnya, Sura menggigit ekor Baya. Baya yang bergigi kuat itu menggigit ekor Sura hingga hampir putus. Sura yang sangat kesakitan akhirnya kembali ke laut. Baya merasa menang. Terkekeh-kekeh ia tertawa meski ia juga merasa kesakitan. Akibat gigitan Sura, ekornya senantiasa membelok ke arah kiri.

Warga yang mengetahui begitu serunya pertarungan antara Sura dan Baya itu menjadi sangat terkesan karenanya. Mereka pun menamakan wilayah hunian mereka itu dengan gabungan nama Sura dan Baya, yakni Surabaya. Hingga kini Surabaya tetap menjadi nama wilayah yang termasuk salah satu kota terbesar di Indonesia itu.

Pesan Moral Cerita Asal Usul Nama Surabaya

Damai itu indah. Berselisih atau berkelahi hanya akan membuat rugi. Pihak yang merasa menang pun sesungguhnya mengalami kerugian dan menjadi korban. Oleh karena itu hendaklah masalah diselesaikan dengan cara yang baik dan menghindari perselisihan atau perkelahian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here