Cerita Damar Wulan dan Minakjingga
Cerita Damar Wulan dan Minakjingga

Damar Wulan dan Minakjingga. Minakjingga dalah seorang adipati di daerah Blambangan. Terkenal sakti mandraguna dirinya. Ia mempunyai pusaka yang luar biasa ampuh lagi bertuah. Gada Wesi Kuning namanya. Merasa dirinya sakti dan juga mempunyai senjata yang luar biasa ampuh, Minakjingga menjadi sosok yang angkuh, kejam, lagi sewenang-wenang. Apa pun juga yang dikehendakinya harus terwujud dalam kenyataan. Ia akan mengamuk sejadi-jadinya jika keinginannya tidak dituruti.

Suati hari Adipati Minakjingga mengirimkan utusan ke kerajaan Majapahit. Adipati Minakjingga hendak melamar penguasa Majapahit, Ratu Ayu Kencana Wungu, yang belum bersuami itu. Ratu Kencana Wungu menolak pinangan Adipati Minakjingga itu. Sang ratu tak ingin diperistri adipati yang congkak, kejam, lagi telah banyak mempunyai istri itu.

Tak terkirakan kemarahan Adipati Minakjingga ketika utusannya kembali ke Kadipaten Blambangan dan menyatakan lamaran sang Adipati ditolak Ratu Majapahit. Tanpa berpikir panjang, Adipati Minakjingga segera memerintahkan segenap prajurit Blambangan untuk bersiap-siap guna menyerang Majapahit. Adipati Minakjingga langsung memimpin penyerangan tersebut.

Perang dahsyat segera meletus setelah kekuantan Majapahit dikerahkan untuk menghadapi kekuatan Blambangan.

Adipati Minakjingga mengamuk dalam peperangan dahsyat itu. Dengan senjata Gada WeSi Kuning saktinya, ia menghadapi ratusan prajurit Majapahit yang ditugaskan untuk meringkusnya. Benar-benar menggetarkan kesaktian Adipati Minakjingga, karena dengan sekali tebasan Gada WeSi Kuning nya, belasan hingga puluhan prajurit Majapahit tewas karenanya.

Para prajurit Majapahit akhirnya mundur karena tidak sanggup menghadapi amukan adipati Minakjingga dan juga keperkasaan para prajurit Blambangan.

Ratu Ayu Kencana Wungu sangat bersedih mendapati kekalahan prajuritnya. Ia pun lantas bersemedi, memohon petunjuk dari Dewa untuk mengatasi masalah besar yang tengah dihadapinya tersebut. Petunjuk itu pun didapatkan sanga ratu. “Minakjingga akan binasa jika berhadapan dengan pemuda bernama Damar Wulan!”

Ratu Ayu Kencana Wungu lantas memerintahkan Patih Logender untuk mencari pemuda bernama Damar Wulan.

Sosok pemuda yang dimaksud akhirnya diketemukan. Ia tinggal jauh di luar kotaraja Majapahit.

“Damar Wulan,” kata Ratu Ayu Kencana Wungu setelah Damar Wulan duduk bersimpuh di hadapannya, “kuperintahkan engkah untuk melenyapkan Adipati Minakjingga yang telah merusuh dan menyebabkan kerusahakan di Majapahit. Bawa kepala Minakjingga di hadapakanku sebagai wujud rasa baktimu pada Majapahit dan juga diriku!”

“Hamba, Gusti Prabu.”

Setelah menghatur sembahnya, Damar Wulan segera menuju Blambangan seorang diri. Seketika tiba di alun-alun Kadipaten Blambangan, Damar Wulan lalu menantang bartarung Adipati Minakjingga. Tak terkirakan kemarahan Adipati Minakjingga. Segera dilayaninya tantangan Damar Wulan. Setelah melalui pertarungan sengit, Adipati Minakjingga mampu mengalahkan Damar Wulan. Damar Wulan pingsan terkena hantaman Gada WeSi Kuning. Para Prajurit Blambangan lantas menangkap dan memenjarakan Damar Wulan di penjara Kadipaten Blambangan.

Pertolongan akhirnya tiba bagi Damar Wulan. Tanpa diduganya, dua selir Adipati Minakjingga memberikan bantuannya. Dewi Wahita dan Dewi Puyengan nama kedua selir tersebut. Keduanya sesungguhnya membenci Adipati Minakjingga. Mereka sangat berharap Damar Wulan mampu membunuh Adipati Minakjingga agar diri mereka terbebas dari penguasa Kadipaten Blambangan yang kejam lagi sewenang-wenang itu.

Dewi Wahita dan Dewi Puyengan membuka rahasia kesaktian Adipati Minakjingga. “Rahasia kesaktian Adipati Minakjingga berada pada Gada Wesi Kuningnya,” kata mereka. “Tanpa senjata sakti andalannya itu, niscaya engkau akan dapat mengalahkannya.”

Damar Wulan meminta tolong kepada Dewi Wahita dan Dewi Puyengan untuk mengambil senjata andalan Adipati Minakjingga tersebut. Dengan diam-diam, Gada Wesi Kuning akhirnya berhasil diambil dua selir Adipati Minakjingga tersebut. Gada Wesi Kuning lantas diserahkan kepada Damar Wulan, Damar Wulan pun kembali menantang Adipati Minakjingga.

Pertarungan antara Adipati Minakjingga dan Damar Wulan kembali terjadi. Sangat seru pertarungan meraka. Akhirnya Adipati Blambangan yang terkenal sombong, kejam, lagi sewenang-wenang itu menemui kematiannya setelah tubuhnya terkena hantaman Gada Wesi Kuning. Kepalanya dipenggal. Damar Wulan lantas membawa potongan kepala Adipati Minakjingga kembali ke Majapahit.

Sesungguhnya perjalanan Damar WUlan ke Blambangan itu diikuti oleh dua anak Patih Logender yang bernama Layang Seta dan Layang Kumitir. Keduanya mengetahui keberhasilan Damar Wulan menjalankan titah Ratu Ayu Kencana Wungu. Keduanya lantas merencanakan siasat licik untuk merebut potongan kepala Adipati Minakjingga dan mengakui sebagai pembunuh Adipati Minakjingga di hadapan Ratu Ayu Kencana Wungu. Dengan demikian mereka berharap akan mendapatkan hadiah yang sangat besar dari penguasa takhta Majapahit itu.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Majapahit, Damar Wulan dicegat Layang Seta dan Layang Kumitir. Terjadilah pertarungan di antara mereka. Damar Wulan dikeroyok dua saudara kandung anak Pati Logender tersebut. Pada suatu kesempatan, mereka berhasil merebut kepala Adipati Minakjingga dan bergegas meninggalkan Damar Wulan.

Setibanya di istana Majapahit, Layang Seta dan Layang Kumitir segera menghadap Ratu Ayu Kencana Wungu, Mereka menyatakan bahwa mereka telah berhasil mengalahkan Adipati Minakjingga. Mereka lantas menyerahkan potongan kepala Adipati Minakjingga kepada Ratu Ayu Kencana Wungu.

Sebelum Ratu Ayu Kencana Wungu berujar, datanglah Damar Wulan. Damar Wulan menyatakan keberhasilannya mengalahkan Adipati Minakjingga dan memenggal kepalanya. “Ampun Gusti Prabu, di tengah jalan hamba dihadang dua orang dan potongan kepala Adipati Minakjingga itu berhasil mereka rebut.”

Ucapan Damar Wulan segera disanggah Layang Seta dan Layang Kumitir yang menyatakan jika meraka itu lah yang berhasil mengalahkan Adipati Minakjingga. Damar Wulan akhirnya mengetahui jika dua orang itulah yang menghadangnya dan merebut potongan kepala Adipati Minakjingga.

Perselisihan antara Damar WUlan dan dua anak Patih Logender pun kian memanas. Ratu Ayu Kencana Wungu menengahi perselisihan itu. Katanya, “untuk membuktikan pengakuan siapa diantara kalian yang benar, maka selesaikan secara jantan. Bertarunglah kalian. Siapa yang menang di antara kalian, maka dialah yang benar.”

Pertarungan antara Damar Wulan melawan Layang Seta dan Layang Kumitir kembali terjadi. Kebenaran itu akhirnya terbuka setelah Damar Wulan berhasil mengalahkan kakak beradik anak Patih Logender tersebut. Layang Seta dan Layang Kumitir akhirnya mengaku bahwa yang mengalahkan Adipati Minakjingga sesungguhnya adalah Damar Wulan. Meski mereka telah mengakui, namun tak lepas pula mereka dari hukuman. Ratu Ayu Kencana Wungu memerintahkan untuk memenjarakan Layang Seta dan Layang Kumitir karena telah berani berdusta kepadanya.

Ratu Ayu Kencana Wungu kemudian memberikan hadiah yang luar biasa bagi Damar Wulan. Damar Wulan diperkenankan Ratu Ayu Kencana Wungu untuk menikahinya. Pesta pernikahan antara Ratu Ayu Kencana Wungu dan Damar Wulan pun dilaksanakan secara besar-besaran. Segenap rakyat Majapahit bergembira karena ratu mereka akhirnya bersuami. Suami sang ratu adalah sosok yang terbukti besar rasa baktinya kepada Majapahit karena berhasil  mengalahkan Adipati Minakjingga yang telah memporak-porandakan kedamaian dan ketentraman Majapahit.

 

Pesan Moral Cerita Damar Wulan dan Minakjingga

Kebenaran pada akhirnya akan terbuka meski berusaha di tutup-tutupi.

Begitu pula dengan kejahatan akan tersingkap pula meski berusaha untuk ditutupi serapat mungkin.

Kebenaran akan mendapatkan kebaikan di kemudian hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here