Hikayat Lebai Malang
Hikayat Lebai Malang (img dari buku Koleksi terbaik cerita rakyat nusantara 34 provinsi)

Hikayat Lebai Malang. Tersebutlah seorang guru agama bernama Lebai. Biasa ia disapa dengan panggilan Pak Lebai.

Pak Lebai tinggal di sebuah tepian sungai. Ia sangat terkenal di antara warga kampung yang tinggal dari hulu hingga hilir sungai tersebut. Pak Lebai akan diundang jika ada hajatan yang diadakan warga. Biasanya, ia akan diminta untuk mendoakan hajat yang telangah dilaksanakan tuan rumah tersebut. Biasanya pula, Pak Lebai akan mendapat bagian istimewa dari hewan yang disembelih untuk hajat tersebut, yakni bagian kepala.

Pada suatu hari Pak Lebai mendapat undangan dari kenalannya. Kenalannya yang tinggal di hulu sungai itu hendak menikahkan anaknya. Pak Lebai menyatakan akan datang memnuhi undangan tersebut. Namun tak berapa lama kemudian datang undangan pernikahan pula dari muridnya yang tinggal di hilir sungai. Kepada utusan yang memberikan undangan, Pak Lebai juga menyatakan akan menghadirinya.

Pak Lebai menjadi kebingungan saat mengetahui kedua undangan itu ternyata dilaksanakan pada hari yang sama. Ia merasa terlalu terburu-buru menyatakan akan memenuhi dua undangan itu tanpa memriksa terlebih dahulu. Maka, pada hari yang telah ditentukan, Pak Lebai tetap dalam kebingungannya menentukan undangan mana yang sebaiknya ia datangi.

Menurut kabar yang didengarnya kemudian, pesta pernikahan anak kenalannya di hulu itu akan menyembelih dua ekor kerbau. Dengan demikian Pak Lebai akan mendapat dua kepala kerbau jika ia datang menghadiri undangan tersebut. Namun ia juga mendengar kabar, orang yang bertugas memasak pada pesata hajatan itu dikenal kurang enak masakannya.

Pak Lebai menjadi ragu-ragu untuk datang memenuhi undangan kenalannya yang tinggal di hulu sungai itu. Dua kepala kerbau memang bagian yang sangat menggiurkan. Namun, jika masakannya kurang enak, apalah arti dua kepala kerbau itu? Apalagi, id juga tidak terlalu mengenal dengan baik tuan rumah pesta pernikahan tersebut.

Pak Lebai tampaknya lebih memilih untuk datang memenuhi undangan pernikahan muridnya yang tinggal di hilir sungai. Menurut berita yang didengarnya, acara pernikahan tersebut ahanya akan menyembelih seekor kerbau dan ia akan mendapatkan bagian kepala kerbau. Namun orang hilir sungai terkenal akan kelezatan masakannya. Masakan satu kepala kerbau yang lezat tentu lebih menyenangkan dibandingkan masakan dua kepala kerbau yang kurang enak. Terlebih-lebih Pak Lebai juga sangat mengenal tuan rumah pesta pernikahan itu hingga ia lebih memilih untuk datang menghadirinya.

Pak Lebai kemudian pergi ke sungai dan memulai mengayuh perahu kecilnya. Ia berniat ke hilir sungai untuk memenuhi undangan pernikahan muridnya. Terbayang di benaknya bagian yang akan diterimanya. Terbayang pula aneka hidangan lezat lainnya yang dapat dinikmatinya ketika menghadiri undangan nanti.

Namun, di tengah jalan Pak Lebai mendadak menghentikan kayuhannya. Ia tampak ragu-ragu untuk meneruskan perjalanan. Dalam benaknya, dua kepala kerbau, meski dimasak kurang enak, lebih banyak dibandingkan satu kepala kerbau. Lagipula, ia masih bisa mengolah kembali daging itu dengan menambahkan bumbu. Setelah berpikir demikian, Pak Lebai lantas mengayuh perahunya menuju ke hulu sungai untuk menghadiri pernikahan anak kenalannya.

Pak Lebai terus mengayuh perahunya menuju ke hulu. Namun, di tengah perjalanan ia kembali diterpa kebingungan dan keragu-raguan. Satu kepala kerbau yang sangat enak rasanya ketika dimasak dirasanya lebih menguntungkan baginya dibandingkan masakan dua kepala kerbau yang kurang enak. Memikirkan hal itu membuat Pak Lebai segera mengubah haluan. Dikayuhlah perahu kecilnya untuk kembali menuju hilir. Dimantapkan hatinya untuk menghadiri pesta pernikahan muridnya.

Menjelang beberapa saat sebelum tiba di tempat pesta pernikahan yang diadakan, Pak Lebai berpapasan dengan beberapa orang tetangganya. Pak Lebai keheranan melihat beberapa tetangganya itu tampak bergegas meninggalkan pesata pernikahan. “Apa yang terjadi?” Tanya pak Lebai.

Salah seorang tetangga Pak Lebai menjawab, “Pak Lebai, aku baru saja dari pesta pernikahan murid bapak itu. Ternyata kerbau yang disembelih itu kurus tubuhnya. Lebih baik menghadiri pesta pernikahan yang di hulu. Di sana disembelih dua ekor kerbau. Seandainya dua kerbau itu kurus-kurus badannya pun, tetap aku akan mendapatkan bagian yang lebih banyak.”

Pak Lebai menjadi ragu-ragu untuk meneruskan perjalanannya. Ia termangu-mangu beberapa saat. Terus ditimbang-timbangnya antara meneruskan perjalanan dan mendapat kebala kerbau kurus atau haruskah ia mengikuti jejak beberapa tetangganya untuk ke hulu dan mendapatkan dua kepala kerbau? Bagaimana pun juga, menurutnya tentu lebih menyenangkan baginya mendapatkan dua kepala kerbau meski kurang enak rasanya. Pak Lebai lantas kembali mengubah haluan. Ia bersegera mengayuh perahu kecilnya untuk menyusul beberapa tetangganya.

Malang benar nasib Pak Lebai. Sesampainya ia di tempat pesta pernikahan anak kenalannya di hulu sungai, pesta pernikahan itu telah usai. Hidangan telah habis disantap para undangan. Tidak menyisakan sedikit pun, termasuk dua kepala kerbau yang sedianya disiapkan untuknya. Semua habis disantap karena menyangka pak Lebai tidak datang.

Dengan rasa kecewa Pak Lebai lantas mengayuh perahu kecilnya menuju hilir. Ia bergegas mengayuh agar masih bisa mendapatkan kepala kerbau meski kecil sekalipun. Ia harus mengayuh sepenuh tenaganya agar lekas tiba di pesta pernikahan muridnya itu. Perutnya terasa melilit karena lapar dan itu membuatnya kian cepat mengayuh agar selekasnya dapat menyantap.

Lagi-lagi Pak Lebai harus menelan kekecewaannya yang besar. Setibanya ia di pesta pernikahan muridnya itu, pesta pernikahan itu telah usai. Semua hidangan telah habis disantap para undangan. Wajah mereka menyiratkan kepuasan, seperti masih terbayang kelezatan hidangan yang disajikan. Pak Lebai hanya bisa menelan air ludahnya sendiri, sama sekali tidak ada hidangan tersisa yang masih bisa dimakannya!

Setelah sejenak berbincang-bincang, Pak Lebai lalu kembali ke rumahnya. Bersungut-sungut wajahnya. Melilit pula perutnya akibat rasa lapar dan juga kelelahan mendayung perahu kecilnya dari hilir ke hulu. Setibanya di rumah, ia pun menyantap makanan seadanya yang ada di rumahnya. Benar-benar jengkel dan menyesal ia terombang-ambing karena tidak mempunyai pendirian yang tetap. Seandainya ia telah menetapkan pendiriannya, tentu ia tidak harus makan seadanya di rumahnua sendiri seperti yang dilakukannya waktu itu.

Pagi-pagi keesokan harunya Pak Lebai berencana memancing dan berburu untuk mendapatkan lauk makan nasinya. Dibawanya sebungkus nasi untuk bekal. Untuk membantu tugas perburuannya, Pak Lebai telah meminjam anjing milik tetangganya. Pak Lebai mulai memancing. Beberapa saat ia melepaskan kail, mata kailnya dirasakannya ada yang menarik. Pak Lebai dapat merasakan, seekor ikan besar yang menarik kailnya. Pak Lebai buru-buru menarik kailnya. Akibatnya mata kailnya tersangkut batu di dasar sungai. Setelah berulang-ulang tidak berhasil melepaskan kailnya yang tersangkut pada batu, Pak Lebai langsung menceburkan dirinya ke sungai. Ia lalu menyelam. Benar, dilihatnya mata kailnya tersangkut batu sementara seekor ikan besar tersangkut pada mata kailnya itu. Pak Lebai lantas melepaskan kailnya yang tersangkut batu. Segera pula ia memagang ikan besar yang memakan umpan pada mata kailnya itu. Terburu-buru ia melepaskan mata kailnya yang menyangkut di mulut Si ikan, ikan itu meronta-ronta hingga akhirnya terlepas.

Jengkal dan kecewalah hati Pak Lebai karenanya. Ia pun bergegas naik ke darat. Tak terkirakan jengkel dan terkejutnya ia ketika mendapati sebungkus nasi bekalnya telah habis dimakan anjing yang dibawanya!

Karena kejadian-kejadian itu Pak Lebai mendapat julukan Si Lebai Malang.

 

Pesan Moral Hikayat Lebai Malang

Hendaklah kita mempunyai pendirian yang tegas setelah memikirkan taindakan yang akan kita tentukan. Jangan ragu-ragu karena kera-raguan mendatangkan kerugian di kemudian hari.

Related:

Cerita Rakyat Nusantara

Legenda Malin Kundang Anak Durhaka

Hikayat Malim Deman, Cerita Rakyat Sumatra Barat

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here