Kisah Ahmad dan Muhammad
Kisah Ahmad dan Muhammad

Kisah Ahmad dan Muhammad. Syahdan pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami istri yang mempunyai dua orang anak. Ahmad dan Muhammad nama kedua anak tersebut.

Ahmad dan Muhammad dikenal sebagai anak yang baik hati. Keduanya patuh pada perintah orangtuanya dan sangat rajin membantu kedua orang tua mereka. Selain itu, Ahmad dan Muhammad juga rajin ke surau untuk bersembahyang dan juga mengaji.

Pada suatu hari Ahmad dan Muhammad melihat seekor burung merbuk. Burung yang sangat istimewa dalam pandangan masyarakatnya. Menurut cerita, barang siapa yang memakan kepala burung merbuk akan menjadi raja. Barang siapa yang memakan hati burung merbuk akan menjadi mentri. Ahmad dan Muhammad lantas menangkap burung merbuk tersebut. Namun, karena mereka tidak berniat menyembelih burung merbuk tangkapan mereka, melainkan hendak memeliharanya.

Dalam perjalanan keduanya, burung merbuk itu menjadi jinak. Burung merbuk itu tidak dikandangkan. Ia bebas terbang, namun terbangnya burung merbuk tidak jauh dari rumah Ahmad dan Muhammad. Setiap kali mendapati Ahmad dan Muhammad berada di rumah, si burung merbuk hinggap di dekat keduanya. Ahmad dan Muhammad selalu mengajak burung merbuk itu ke ladang ketika membantu pekerjaan ayah mereka.

Ayah Ahmad dan Muhammad ingin menjadi raja atau setidak-tidaknya mentri. Menurutnya, keinginan itu akan terlaksana jika ia memakan kepala atau hati burung merbuk. Ia dan istrinya lantas berembuk untuk menyembelih dan memasak burung piaraan kedua anak mereka. Setelah memikirkan berbagai cara, mereka pun menemukan cara untuk mewujudkan niat mereka menyembelih dan memasak burung merbuk tersebut.

Pada suatu hari Ahmad dan Muhammad berniat mengajak burung merbuk it ke ladang seperti biasanya. Namun, ibu mereka melarangnya. Kata ibu mereka, “Aku khawatir jika burung merbuk yang jinak itu diambil orang.”

Ahmad dan Muhammad yang patuh pada nasihat orang tua lantas mengiyakan perintah ibunya. Mereka meninggalkan burung merbuk itu ketika berangkat ke ladang.

Sepeninggal Ahmad dan Muhammad, ibu mereka menangkap dan menyembelih burung merbuk. Dibuatnya menjadi daging burung panggang. Ketika Ahmad dan Muhammad pulang dari ladangm ibu mereka berdusta dengan mengatakan, “Sepeninggal kalian, burung merbuk piaraan kalian itu diterkam kucing. Ibu buru-buru menyembelihnya dan memanggangnya.”

Ahmad dan Muhammad sangat sedih mendapati burung merbuk piaraan mereka itu telah dijadikan daging panggang. Mereka terpaksa memakang daging burung piaraan mereka itu sebagai lauk teman nasi. Ahmad mengambil bagian kepala burung merbuk dan memakannya. Muhammad memakan hati merbuk. Karena telah sangat lapar, keduanya makan dengan amat lahapnya.

Tak terkirakan kemarahan ayah Ahmad dan Muhammad ketika mendapati kedua anaknya itu telah mendahuluinya memakan kepala dan hati burung merbuk. Begitu marahnya ia hingga dua anaknya itu diusir dari rumahnya.

Ahmad dan Muhammad pergi dari rumah tanpa membawa bekal apa pun juga. Mereka pergi tak tentu arah. Jika perut mereka terasa lapar, mereka mencari buah-buahan, umbi-umbian, dan dedaunan yang mereka temukan untuk makanan mereka. Ketika hari menjelang senja, keduanya tiba di pinggir sebuah hutan. Ahmad dan Muhammad berniat bermalam di pinggir hutan itu. Mereka mendapati sebuah pohon besar. Ahmad meminta adiknya tidur di atas pohon, sementara dirinya tidur di bawah pohon seraya berjaga-jaga.

Syahdan, tersebutlah sebuah kerajaan yang diperintah seorang raja yang telah tua usianya. Sang raja tidak mempunyai anak laki-laki. Anak-anak perempuannya tidak diperkenankan menjadi raja penggantinya sesuai adat yang berlaku pada kerajaan itu. Raja pun mengadakan sayembara. Barangsiapa yang disembah Gajah Putih piaraannya, maka ia berhak menjadi pengganti dirinya.

Gajah Putih piaraan raja lantas dilepas. Perdana Mentri diikuti para hulubalang dan prajurit mengawal di belakang Gajah Putih. Gajah Putih itu terus berjalan hingga akhirnya tibalah ia di pinggir hutan. Di dekat tempat Ahmad tidur, Gajah Putih itu mendadak merebahkan tubuhnya dan bersujud.

Perdana Menteri, segenap hulubalang dan prajurit mendapati Ahmad tengah tertidur di depan Gajah Putih. Mereka lantas menaikkan Ahmad ke atas punggung Gajah Putih dan segera mereka kembali ke istana kerajaan. Mereka telah menemukan calon pengganti raja mereka.

Ketika Ahmad terbangun, terperanjaklah dirinya ketika mendapati dirinya berada di istana kerajaan. Sang Raja menyambutnya dengan gembira. Begitu pula dengan warga kerajaan lainnya. Sang Raja lantas mengajak Ahmad memasuki istana kerajaan dan sejak saat itu Ahmad tinggal di instana kerajaan sebagai calon penggantio Raja.

Sementara Muhammad yang masih berada di pinggir hutan sangat terperanjat ketika terbangun. Ia tidak mendapati kakaknya. Ia menyangka, kakaknya itu telah dimangsa hewan buas penghuni hutan. Muhammad sangat bersedih. Ia pun menangis di bawah pohon besar tempatnya beristirahat. Muhammad lantas mencari kakaknya ke dalam hutan. Ia terus mencari hingga akhirnya tersesat di dalam hutan belantara tersebut.

Pada suatu hari Muhammad melihat dua ekor burung rajawali besar tengah bertarung. Selintas mengamati, Muhammad mengetahui burung rajawali besar itu tengah memperebutkan sebatang ranting kayu.

“Tentu bukan ranting kayu biasa,” pikir Muhammad. “Bisa jadi, itu sebatang ranting kayu bertuah.”

Mendadak ranting kayu yang diperebutkan dua burung rajawali besar itu jatuh di dekat tempat Muhammad berdiri. Muhammad lalu mengambilnya. Muhammad lalu berujar, “Wahai ranting bertuah, tolong antarkan aku kepada kakakku.”

Kejadian pun terjadi. Sesaat setelah Muhammad berujar, tubuhnya melayang dan jatuh kemudian di taman kerajaan. Putri bungsu sang Raja yang tengah berada di taman seketika itu menjerit ketakutan ketika mendapati Muhammad berada di taman kerajaan itu. Para prajurit bergegas datang ke taman kerajaan dan menangkap Muhammad.

Muhammad pun dianggap bersalah karena memasuki taman kerajaan tanpa izin. Ia harus diadili.

Ketika pengadilan atas diri Muhammad diadakan, Sang Raja turut menyaksikan jalannya persidangan. Ahmad turut pula menghadiri. Ia duduk di samping Sang Raja. Ketika itu Ahmad tidak lagi mengenali siapa sosok pemuda yang tengah menjadi pesakitan tersebut.

Dihadapan Sang Raja, Ahmad, dan juga segenap hadirin, Muhammad lantas menceritakan siapa dirinya dan juga penyebab dirinya hingga dapat berada di taman kerajaan. Terperanjatlah Ahmad ketika mendengar penuturan Si pesakitan yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri.

Ahmad lantas menjelaskan kepada Sang Raja perihal siapa sesungguhnya Si pesakitan. “Benarkah orang itu adikmu?” Tanya Sang Raja. “Benar, Yang Mulia,” Sang Raja pun membebaskan Muhammad.

Sang Raja dan segenap hadirin begitu terharu ketika Ahmad dan Muhammad berpelukan di hadapan mereka. Muhammad lantas hidup di istana bersama kakak tercintanya.

Beberapa waktu kemudian Sang Raja menikahkan Putri sulungnya dengan Ahmad dan Putri bungsunya dengan Muhammad. Pesta pernikahan itu dilangsungkan dalam acara yang megah dan besar-besaran. Para raja, pangeran, bangsawan, dan orang-orang ternama diundang dalam acara pernikahan tersebut. Berselang beberapa waktu kemudian Sang Raja dan Perdana Menteri mengundurkan diri. Ahmad ditunjuk menjadi raja dan Muhammad juga menjabat perdana menteri.

Ahmad dan Muhammad pun hidup berbahagia sebagai raja dan perdana menteri. Mereka memerintah dengan adil dan bijaksana hingga rakyat pun kian maju dan sejahtera.

Pesan Moral Kisah Ahmad dan Muhammad

Kita Hendaklah Saling Sayang-Menyayangi dengan Saudara. Kebersamaan dengan Saudara akan dapat Saling Kuat-Menguatkan.

 

Temukan cerita rakyat Sumatra Utara lainnya di —> Cerita Rakyat

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here