Legenda Malin Kundang Anak Durhaka
Legenda Malin Kundang Anak Durhaka (img: wikipedia)

Legenda Malin Kundang Anak Durhaka. Alkisah hiduplah satu keluarga yang tinggal di perkampungan pantai Aia Manih. Keluarga itu terdiri ayah, ibu, dan seorang anak lelaki yang bernama Malin Kundang. keluarga itu hidup dalam kemiskinan. Ayah Malin Kundang lantas pergi merantau untuk memperbaiki nasib keluarganya. Waktu terus belalu, bertahun-tahun dilewati, namun ayah Malin Kundang itu tidak juga kembali. Tidak ada juga kabar darinya, enah di mana keberadaan ayah Malin Kundang itu.

Ibu Malin Kundang, Mande Rubayah namanya, mengambil alih peran ayah Malin Kundang untuk mencari nafkah. Ia berjualan kue yang dijajakannya berkeliling. Uang hasil penjualan kue itu digunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup ia dan anak semata wayangnya. Keduanya hidup dalam kemiskinan.

Sejak kecil Malin Kundang telah dikenal cerdas, pemberani, dan agak nakal. Malin Kundang kerap mengganggu ayam, baik ayam miliknya sendiri maupun milik tetangganya. Dikerjar-kejarnya ayamn itu dan dipukulnya dengan sapu. Mande Rubayah sangat menyayangi Malin Kundang. Begitu pula sebaliknya, Malin Kundang sangat menyayangi dan menghormati ibunya.

Kehidupan miskin yang dirasakan Malin Kundang membuatnya ingin merantau. Menurutnya, jika ia berhasil dalam perantauannya nanti, ia dan ibunyatidak lagi harus hidup dalam kemiskinan. Ibunya tidak harus berkeliling untuk menjajakan kue.

Ibu Malin Kundang sesungguhnya tidak setuju dengan rencana Malin Kundang untuk merantau. Ia tidak ingin kejadian yang menimpa suaminya dahulu terulang pada anaknya itu. Namun Malin Kundang memaksa dan mendesak. Ibu Malin Kundang akhirnya mengizinkan meski dengan berat hati. Pesannya, “Jika engkau telah berhasil, segeralah engkau kembali. Sekali-kali jananlau engkau melupakan Bundo dan kampung halamanku ini.”

“Aku melupakan Bundo? Bagaimana mungkin aku berani melakukannya? Tidak sekali-kali!” Tegas Malin Kundang. “Justru aku berniat pergi merantau ini agar Bundo dapat hidup senang dan berbahagia, tidak berkutat dalam kesmikinan seperti yang kita alami selama ini. Sungguh, akan menjadi anak durhaka aku ini jika berani melupakan Bundo!”

Dengan berbekal sedikit uang dan tujuh bungkus nasi, Malin Kundang memulai pengembaraannya. Gembiralah hari Malin Kundang ketika mendapati ada kapal dagang yang tengah berlabuh di pantai Aia Manih dan bertambat-tambah gembiranya saat nahkoda kapal memperbolehkannya untuk turut menumpang dalam kapal itu.

Selama turut berlayar, Malin Kundang mengerjakan berbagai hal di dalam kapal dagang itu. Ia menyapu, mengepel, membersihkan hal-hal yang dilihatnya kotor dan melakukan berbagai pekerjaan lainnya. Ia bekerja dengan rajin. Nahkoda kapal dan anak buah kapal lainnya merasa senang dengan kehadirannya yang banyak membantu tersebut. Selama dalam pelayaran itu Malin Kundang juga banyak belajar berbagai hal perihal ilmu pelayaran. Nahjkoda kapal dan juga anak buah kapal denan senang hati membagi pengetahuan dan pengalamannya untuk Malin Kundang.

Kejadian yang mengejutkan dialami Malin Kundang. Kapal dagang yang ditumpanginya itu diserang kapal lanun (Bajak Laut). Malin Kundang beresmbunyi di ruang kecil yang tertutup tumpukan kayu. Hanya dirinya saja yang selamat ketika para perompak itu meninggalkan kapak dagang itu seraya membawa seluruh isi kapal dagang yang mereka rompak.

Malin Kundang terkatung-katung sendirian di tenga laut. Dipasrahkan nasibnya sepenuhnya kepada Tuhan, Ombak laut akhirnya mendamparkan kapal dagang yang dinaiki Maln Kundang ke sebuah pantai. Malin Kundang berjalan menuju desa terdekat dan mendapat pertolongan orang-orang desa itu. Ia lantas tinggal di desa yang subur itu.

Malin Kundang kemudian bekerja serabutan di desa itu. Apa pun yang bisa dikerjakannya akan dikerjakannya. Ia bekerja dengan rajin dan sangat hemat. Sebagian besar uang yang didapatkannya itu ditabungnya. Ketika uang tabungannya telah cukup banyak, Malin Kundang lantas berdagang. Ia membeli barang dan menjualnya dengan mengambil keuntungan yang tidak banyak. Orang-orang senang membeli dan menjual barang kepadanya karena Malin Kundang dikenal jujur.

Perdagangan yang dilakukan Malin Kundang terus mengalami perkembangan yang menggembirakannya. Terus membesar. Malin Kundang tidak hanya berdagang di desa tempat tinggalnya itu saja, melainkan juga ke desa-desa lainnya. Bahkan, akhirnya ia melaksanakan perdagangan itu dengan menyewa kapal. Terus membesar perdagangannya hingga akhirnya ia mampu membeli kapal dagang sendiri. Kian bertambah maju usaha dagangnya hingga Malin Kundang dapat membeli kapal-kapal dagangnya yang lain. Malin Kundang pun dikenal sebagai pedagang besar yang berhasil. Lebih dari seratus orang bekerja padanya. Kekayaan Malin Kundang amat banyak. Tidak ada orang di desa itu yang mempu mengalahkan banyaknya kekayaan yang dimiliki Malin Kundang. Ia lantas menikah dengan gadis tercantik di desa itu yang juga berasal dari keluarg kaya raya.

Di perkampungan Aia Maih ibu Malin Kundang terus menunggu kedatangan anaknya. Setiap ada kapal yang merapat di pelabuhan, ia senantiasa berharap anak tercintanya itu berada di dalam kapal tersebut. Namun, anak tercintanya itu tidak juga terlihat. Tidak ada juga kabar dari Malin Kundang. Entah di mana anaknya itu berada, Mande Rubaya tidak mengetahuinya. Terbesit pula ketakutannya jika nasib anaknya itu akan sama dengan nasib suaminya.

Waktu terus berlalu. Suatu hari ia mendengar berita yang telah bertahun-tahun ditunggunya. Anak tercintanya telah kembali. Sangat mengejutkan sekaligus membanggakannya, anak tercintanya pulang menaiki kapal miliknya sendiri!

Mande Rubayah segera menuju pelabuhan. Tak terkirakan gembiran dan bahagia hatinya ketika ia melihat sebuah kapal yang besar serta mewah tengah bersandar di pelabuhan. Detak jantung Mande Rubayah dirasany kian cepat saat ia mendapati anaknya berdiri di atas geladak kapal di samping seorang perempuan yang diyakininya adalah menantunya. Betapa gagahnya anaknya itu mengenakan pakaian yang terlihat indah gemerlap. Segera ia mempercepat langkah kakinya menuju kapal itu.

Malin Kundang menuruni kapal.

Mande Rubayah yang menyangka anaknya datang menjemputnya segera menghampiri dan memeluk anak yang telah dirindukannya itu. “Malin anakku,” kata Mande Rubayah. “Mengapa engkau pergi begitu lama tanpa pernah berkirim kabar kepada ibumu ini?”

Malin Kundang sesungguhnya sadar dan mengetahui jika perempuan tua yang memeluk tubuhnya itu adalah ibu kandungnya. Namun ketika itu ia disergap rasa malu yang luar biasa untuk mengakui. Di hadapan istri dan juga sekalian anak buahnya, ia malu mengakui perempuan tua berpakaian lusuh itu adalah ibu kandungnya. Maka katanya, “Hei perempuan tua berpakaian lusuh, siapakah engkau ini hingga berani-beraninya engkau memelukku?”

“Malin! Apa katamu?” Amat terperanjat Mande Rubayah mendengar ucapan anaknya. “Tidakkah engkau bisa melihat jika aku ini ibumu? Aku ibu kandungmu, Malin! Mengapa engkau berkata seperti itu?”

“Hei perempuan tua! Berani-beraninya engkau mengaku sebagai ibuku!” kata Malin Kundang seraya berkecak pinggang. “Aku tidak mempunyai ibu seperti engkau ini! Jangan engkau sembarangan mengaku! Lekas engkau tinggalkan kapal ini!”

Istri Malin Kundang turut mencoba menyadarkan, “Kanda, perhatikan dulu baik-baik, jangan terburu-buru mengusir. Apakah benar perempuan tua ini ibu kandungmu?”

“Ibu kandung? Cis! Bukan! Ia bukan ibuku! Ia hanya seorang pengemis tua renta yang mengaku sebagai anaknya karena mengetahui aku ini seorang yang kaya raya!”

“Malin!” teriak Mande Rubayah.

Malin Kundang benar-benar telah gelap mata hingga mendorong tubuh ibu kandungnya itu hingga jatuh terjerembap. “Pergi engkau dari kapalku ini! Pergilah jauh-jauh!”

Tak terkirakan kepedihan hati Mande Rubayah mendapati perlakuan keji anak kandungnya. Sama sekali tidak disangkanya jika anak kandungnya begitu buruk perlakuannya terhadapnya. Anak kandungnya itu tidak hanya menolak mengakuinya sebagai ibu kandung, melainkan berani menganiaya dengan mendorong tubuhnya hingga jatuh terjerembap. Dengan hati remuk redam, Mande Rubayah turun dari kapal mewah milik Malin Kundang. Seketika ia sampai di tanah, ia pun menengadahjkan tangannya ke arah langit dan meluncurkan doa kepada Tuhan, “Ya, Tuhan, sekiranya lelaku yang tidak mengakuiku sebagai ibu kandungnya dan mendorongku hingga jatuh itu benar-benar Malin Kundang, maka aku simpahi ia menjadi batu!”

Beberapa saat kemudian kapal besar mewah itu mengangkat jangkar untuk kembali berlayar. Langit terlihat cerah, angit bertiup lembut. Kapal perlahan-lahan meniggalkan pelabuhan membawa Malin Kundang, Sia anak durhaka yang telah berani berbuat keji terhadap ibu kandungnya itu. Mendadak terjadihlah sesuatu yang tidak diduga. Angin badai datang tiba-tiba dan menghantam kapal besar milik Malin Kundang itu. Begitu kencang dan dahsyatnya angin badai itu menghantam, kapal besar lagi mewah milik Malin Kundang seketika hancur berantakan. Setelah itu, tubuh Malin Kundang perlahan-lahan menjadi kaku hingga akhirnya menjadi batu!

Kutukan Mande Rubayah terhadap anaknya itu telah terwujud. Anak durhaka itu telah berubah menjadi batu.

 

Pesan Moral Legenda Malin Kundang Anak Durhaka

Durhaka terhadap Ibu akan menyebebkan Tuhan murka hingga kehidupan pelakunya akan sengsara, baik di dunia maupun di akhirat.

Batu yang sudah dikutuk menjadi batu sampai saat ini bisa dilihat di Pantai Air Manis. Menjadi pelajaran bagi kita semua agar tidak durhaka kepada orang tua, terutama Ibu.

Legenda Malin Kundang
Batu Saksi Legenda Malin Kundang (img: wikipedia)

 

Related:

Cerita Rakyat Sumatra Barat

Cerita Rakyat Nusantara

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here